Selasa, 18 Januari 2011

Berbagi di Atas Pusaran Kemiskinan

”.... dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung....”
(Al Hasyr: 9)


Menelisik ke belakang, memperhatikan bagaimana asbabun nuzul dari proses turunnya  ayat di atas. Ketika itu datanglah menemui sang Baginda Nabi, seorang lelaki Muhajirin yang tengah kelaparan. Rasulullah segera mengirimkan utusan untuk meminta makanan kepada para istrinya. Namun yang didapat hanyalah segelas air minum. Hingga kemudian Rasulullah berseru kepada para sahabat, ”Barangsiapa yang malam ini berkenan menjamu orang ini, niscaya Allah akan merahmatinya.”

Tiba-tiba dari arah belakang, seorang Anshar berdiri seraya berkata, ”Aku wahai Baginda Nabi!” spontan dan tanpa pikir panjang, hanya mengharap rahmat Allah. Karena begitu tiba di rumah, ia hanya mendapatinya makanan sisa buat anak-anaknya. Kemudian ia berkata kepada istrinya, ”Ajaklah mereka bermain. Jika mereka meminta makan malam, ajaklah mereka tidur. Jika tamu kita sudah datang, matikan lampu dan usahakan bahwa seakan-akan kita juga ikut makan dengannya.”

Maka, tatkala sang tamunya datang, si Anshar dan istrinya itu pun langsung mematikan lampu dan menghidangkan makanan yang seharusnya jatah anak-anak mereka kepada sang tamu. Mereka berpura-pura ikut makan menemani sang tamu. Ditemani perut yang keroncongan, senyum mereka mengembang memperhatikan sang tamu makan dengan lahapnya. Ikhlas. Sesekali anaknya bangun, kemudian dibujuknya kembali hingga tertidur lelap dalam dekapan kasih sayang tulus. Hingga akhirnya mereka sekeluarga ’lulus’ melewati malam yang terasa lebih panjang dari malam-malam yang biasanya.
Pagi harinya, setelah si tamu pamit., si Anshar dan istrinya bertemu dengan sang Baginda Nabi. Dengan penuh rasa haru dan kagum yang luar biasa beliau bersabda, ”Allah pun merasa takjub dan karena perbuatan kalian berdua terhadap tamu itu.”

Begitulah teladan mulia yang dicontohnya para sahabat di zaman nubuwah. Mereka mencontohkan bagaimana memaknai kehidupan dengan saling berbagi. Mereka membangun setiap batu bata peradaban mulia dengan jenak-jenak ukhuwah tanpa pamrih. Sebuah sistem yang teramat sangat jauh dari rasa egois dan individual seperti yang sering kita temui di zaman sekarang ini.

Kaya dan miskin memang sudah sunnah kehidupan dan mesti ada dalam strata sosial. Seseorang diberi legitimasi kaya karena ada orang-orang miskin disekitarnya. Pun seseorang diberi predikat miskin karena memang ada orang-orang yang memiliki sesuatu yang lebih banyak dari dirinya. Begitulah Allah membuat sistem kehidupan ini menjadi dinamis. Si miskin dengan kemiskinannya bisa lebih bersabar menghadapi ujian kemiskinannya dan tidak perlu disibukkan dengan harta bendanya, sehingga jatah waktu yang ia miliki bisa lebih banyak untuk beribadah kepada Allah. Si kaya pun dengan kekayaannya bisa lebih bersyukur dan makin mendekatkan diri kepada Allah, dan dengan harta kekayaaannya mampu memberikan amal lebih banyak dibandingkan si miskin.

Namun ada yang lebih bermakna dibandingkan dengan si miskin yang bersabar dan si kaya yang bersyukur. Adalah berbagi. Ia menjadi titik dari kolaborasi antara keduanya. Si kaya yang bersyukur belumlah cukup tanpa berbagi. Harta kekayaan yang dimilikinya akan menjadi urusan yang cukup panjang dan berat di akhirat kelak apabila dibelanjakan di jalan yang salah. Namun kekayaan pun bisa menjadi sarana yang paling handal sebagai ruang pengabdian kepada Allah. Seperti tangisan Abdurahman bin Auf karena khawatir harta kekayaan yang dimilikinya dapat melupakan ia dari akhirat. Hingga separuh hartanya pun ia sisihkan untuk berbagi, seolah mengajarkan bahwa kekayaan bukanlah yang ada di tangan, bukan juga materi, namun hakikat kekayaan adalah kekayaan jiwa. Sehingga baginya mudah saja untuk berbagi.

Demikian pun dengan si miskin. Bersabar saja tidaklah cukup tanpa berbagi. Bahkan berbaginya si miskin bisa jadi menjadi penilaian lebih di sisi Allah, dibandingkan berbaginya si kaya. Si kaya dengan kelapangan dan keleluasaan hartanya, mungkin tidak akan menghadapi persoalan yang sulit jika hanya untuk sekedar berbagi. Kapan saja dan dimana saja, mereka bisa berbagi dengan berapun yang mereka inginkan.

Namun, menjadi keistimewaan tersendiri jika hal tersebut mampu dilakukan oleh orang-orang yang berada pada pusaran kemiskinan. Seperti kisah si Anshar dan istrinya di atas, hingga Allah sendiri pun takjub dibuatnya. Tak sampai menunggu hingga terkumpulnya harta, bahkan dalam keadaan serba kekurangan jauh dari gelimang harta, namun memiliki keinginan yang besar untuk berbagi.

Mungkin, akan mudah bagi kita jika dalam keadaan bergelimang harta, untuk sekedar menginfakan sedikit harta di jalan Allah. Tapi bagaimana jika kita memang benar-benar dalam susah dan miskin? Bagaimana logika bisa mencapai titik nalarnya jika harus berbagi sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja masih kekurangan? Seperti keluarga Anshar itu, mereka bahkan memberikan kebutuhan pokok mereka yang teramat penting. Hampir-hampir mereka mengorbankan jiwa mereka untuk itu. inilah sebuah sistem strata sosial ukhuwah islamiyah yang dibangun atas dasar pondasi iman, hingga penalaran logika pun tidak sanggup untuk mencapainya. 

Berbagi di atas pusaran kemiskinan, mempunyai kemuliaan tersendiri di sisi Allah,. Dengan dilandasi iman dan keyakinan, meskipun tak bergelimang harta, tapi bagaimana kita berusaha menjadi hamba-Nya yang terbaik dan mempersembahkan yang terbaik, meski posisi itu pun tidak akan dapat kita raih. Jangan sampai karena alasan kemiskinan, lantas mengambil ’rukhshah’ untuk sekedar beribadah apa adanya. Namun dengan keterbatasan yang ada, kita harus terus berpacu, menggelorakan kebaikan, sampai batas maksimal sesuai kemampuan yang ada. Sampai batas dimana kita mampu mengungguli orang-orang kaya yang dikaruniai Allah harta berlimpah dan dengan harta itu mereka saling berlomba-lomba untuk beramal. Sampai batas dimana kita mampu mendobrak batas itu untuk berbagi dalam balutan ukhuwah islamiyah.
Oleh: Farizal Alboncelli



Tidak ada komentar:

Posting Komentar