Selasa, 18 Januari 2011

Mencintai Fakir Miskin

Bila keimanan seseorang benar-benar meresap kuat dalam dada, ia tidak akan menghardik anak yatim, dan tidak akan membiarkan orang-orang miskin kelaparan. Masalah keimanan bukan semata semboyan dan ucapan, melainkan perubahan dalam hati yang melahirkan kebaikan dalam hidup bersama dengan manusia yang lain, terutama mereka yang sangat membutuhkan bantuan. Allah tidak ingin dari hambaNya semata kalimat yang diucapkan, melainkan harus diterjemahkan dalam perbuatan nyata. Bila tidak, keimanan itu menjadi sekedar busa, tidak bermakna dan tidak berpengaruh apa-apa”
(Fi dzilalil Qur’an, vol.6, h.3985).


Pada suatu hari, setelah selesai Sholat jamaah di masjid, Rasulullah tergesa-gesa pulang ke rumah hingga sahabat-sahabat merasa heran. Setibanya di rumah, Rasulullah lalu menyuruh pembantunya memanggil orang-orang fakir dan miskin pada malam itu juga untuk dibagikan uang. Ketika selepas sholat tadi, beliau teringat bahwa ia masih menyimpan uang yang belum dibagikan kepada orang yang berhak menerimanya.

Pada hari yang lain, Rasulullah pergi ke pasar untuk membeli sehelai kain sambil membawa uang delapan dirham. Di tengah jalan Rasulullah bertemu dengan seorang budak perempuan yang menangis. Dia tidak berani pulang karena takut akan dimarahi oleh majikannya. Seketika itu juga Rasulullah memberikan kepadanya uang dua dirham, lalu berhentilah ia menangis. Kemudian Dengan uang enam dirham tadi Rasulullah pergi ke pasar lalu membeli sehelai kain sarung dengan harga empat dirham. Saat pulang Rasulullah bertemu dengan seorang lelaki tua yang sudah compang-camping pakaiannya, hingga nampak bagian aurat. Tanpa memikirkan kebutuhannya Rasulullah kemudian memberikan kain sarung yang baru dibelinya itu kepada orang tua tersebut. Kemudian Rasulullah kembali lagi ke pasar dengan uang yang masih ada. Rasulullah membeli kain sarung untuk dirinya sendiri yang tentu mutunya lebih rendah daripada kain sarung yang dihadiahkannya tadi.

Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang miskin, dan selalu berwasiat kepada sahabat-sahabatnya untuk senantiasa mencintai mereka yang sengsara secara ekonomi. Kecintaan terhadap orang-orang miskin dan lemah merupakan awal dari cinta persaudaraan. Dengan mencintai orang-orang miskin dan lemah, kita mulai mengembangkan cinta terhadap sesamanya, dan saudara-saudaranya. Dalam cintanya pada dirinya sendiri, dia juga mencintai orang yang membutuhkan bantuan, yaitu mereka yang lemah, lagi tertindas.

Allah SWT mengisyaratkan kepada Rasulullah SAW untuk mencintai orang-orang miskin dari kalangan kaum muslimin. Perintah ini mebuka sebuah makna cinta yang sangat mendalam..Kita bisa memahami perbedaan cinta dengan rasa kasihan. Allah memerintahkan untuk mencintai orang-orang miskin, bukan sekedar mengasihani mereka.
Pada tataran ini makna cinta akan terasa lebih kental dengan bentuk-bentuk kepedulian, keterlibatan bahkan sampai pada tataran puncaknya adalah membela orang-orang miskin dan lemah..

Dalam sebuah hadist qudsi diriwayatkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ”Wahai Ahmad! Cintailah Aku dengan cara mencintai kaum fuqara (orang-orang fakir). Dekatilah mereka dan datangilah majelis-majelis mereka. Dan jauhilah orang-orang kaya dan jauhilah olehmu majelis-majelis mereka. Karena sesungguhnya Aku mencintai orang-orang faqir” 20]

Sedangkan mengenai keutamaan orang-orang miskin, Ibn Majah dalam kumpulan haditsnya mencantumkan dalam bab khusus mengenai keutamaan orang-orang miskin, yaitu dalam Bab fadlul faqr (keutamaan kefakiran), Bab manzilatul fuqara’ (derajat orang-orang miskin), dan Bab Mujalasatul fuqara (bergaul dengan orang-orang miskin). Diantara hadits yang disebutkan: Rasulullah SAW. bersabda: “ Orang-orang miskin dari golongan mukimin akan masuk surga lebih dahulu, sebelum orang-orang kaya dari mereka, dengan tenggang waktu setengah hari, sama dengan lima ratus tahun." (Sunnan Ibn Majah: 4122).

Orang-orang kaya yang dimaksud dalam hadist di atas adalah orang-orang kayak yang eksklusif yang tidak bersedia bergaul dengan kaum fuqara dan melarang orang-orang miskin hadir pada perkumpulan mereka.

Karena memang umumnya orang-orang kaya bertabiat ingin diistimewakan, ingin mendapatkan perlakuan khusus, ingin memperoleh fasilitas VIP dan hal-hal lainnya yang semacam itu. Sehingga sering kita jumpai ketika mereka mengadakan pengajian pun, mereka membuat pengajian tersebut secara ekslusif. Perbedaan yang paling menyolok antara majelis orang-orang kaya dengan orang-orang miskin terletak pada masalah ini, yaitu sikap ekslusif. Hal ini bisa kita buktikan pada beberapa majelis-majelis orang-orang kaya yang apabila dihadiri oleh beberapa orang miskin mereka merasa jengah dan terganggu.

Seperti diabadikan di dalam Surat al-Abasa yang mengisahkan seorang buta yang miskin, yaitu Abdullah bin Ummi Maktum, yang datang untuk minta penjelasan kepada Rasulullah SAW yang saat itu sedang memberikan dakwah kepada orang-orang terpandang dan kaya dari bangsawan-bangsawan Quraisy.

Beberapa dari mereka (bangsawan Quraisy) merasa terganggu oleh kedatangan Abdullah bin Ummi Maktum, sampai-sampai salah seorang dari sahabat Nabi yang berasal dari golongan kaum bangsawan Quraisy merasa kesal dan memalingkan wajahnya karena kehadiran sang fakir ini, sehingga Allah pun menegur orang ini atas sikapnya yang eksklusif tersebut.

Kehidupan Rasulullah sendiri pun mencerminkan kesederhanaan. Diantara doa-doanya: “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah dengan orang-orang miskin”

Istrinya Siti Aisyah ra. menceritakan bahwa pernah selama satu bulan di rumahnya tidak pernah mengepul asap. Ketika ditanya ia menjawab: kami hanya minum air dan makan kurma.

Kapada sahabat-sahabatnya Rasulullah SAW. selalu menceritakan bahwa diri dan keluarganya tidak pernah mempunyai harta sampai satu sha’(3751 gram) biji-bijian atau kurma. Dalam riwayat lain disebutkan: hanya mempunyai satu mud (938 gram) makanan (Ibid: 4147-8).

Itulah mengapa Allah memerintahkan kita untuk mencintai dan mendekati mereka. Karena pada hakikatnya mereka-lah yang lebih membutuhkan cinta ketimbang orang-orang kaya. Seluruh penderitaan yang dialami oleh orang-orang fakir, miskin dan lemah jangan hanya dilihat dari sisi fisik atau materi saja. Kita juga harus melihat ada luka yang menganga pada batin mereka, sehingga kita perlu menyembuhkannya.

Luka itu adalah luka akibat rasa sepi, rasa ditinggalkan, rasa diabaikan sehingga mereka haus kasih dan cinta. Sebenarnya ini juga dialami oleh kebanyakan orang-orang kaya, namun orang-orang kaya bisa menghibur dirinya dengan simpanan materi yang mereka miliki, walaupun hiburan-hiburan itu hanya bersifat sementara. Sebaliknya orang-orang fakir miskin tidak memiliki sesuatu pun untuk bisa mengisi kekosongan itu.

Bila ternyata mencintai orang-orang miskin bukan semata kewajiban kemanusiaan melainkan lebih dari itu adalah bukti keimanan, mengapa kita masih sering menyakiskan seorang bayi ditahan di rumah sakit karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya, seorang ibu sambil merangkul anak bayinya ditolak dari pintu ke pintu rumah sakit karena tidak punya biaya, dan seorang bayi terpaksa akhirnya harus menghembuskan nyawa karena tidak ada rumah sakit yang menerimanya . Di manakah keimanan kita selama ini? Pantaskah kita dengan kenyataan ini menyebut diri orang-orang mukmin?

Kita melihat pada masa ini orang-orang pintar lebih banyak membicarakan orang-orang miskin dan tertindas ketimbang berbicara dengan mereka. Sesungguhnya makna cinta bukan sekedar bicara, tetapi terlebih penting lagi adalah melibatkan diri dan hidup kita bersama mereka. Ketika seorang miskin mati kelaparan, itu terjadi bukan karena Allah tidak memperhatikannya, tetapi karena kita enggan memberikan kepada orang tersebut sesuatu yang dibutuhkannya.

Oleh Farizal Al Boncelli

Tidak ada komentar:

Posting Komentar